Rabu, 28 Januari 2015

Bermain Makah-Makah, Menebak Mencapai Tujuan

Nanggroe Aceh Darussalam memang kental akan nuansa agamisnya, sampai-sampai dijuluki sebagai serambi mekah. Pengaruh itu juga akhirnya menjurus kepada permainan tradisional yang terdapat di sana yang namanya juga bernuansa islami, yaitu permainan tradisional Makah-Makah. Bila melihat dari nama yang dipakai, merupakan serapan dari kata “Makkah” yang berarti Mekah, nama sebuah kota yang terdapat di Arab Saudi yang merupakan kiblat bagi umat islam di dunia.

Permainan tradisional Makah-Makah adalah permainan yang mengedepankan unsur kompetisi untuk mencapai sebuah tujuan/sasaran. Titik tujuan yang ingin dicapai inilah yang disebut Makah. Pengertian ini sebenarnya menganalogikan kota Mekah yang merupakan simbol dari pusat kiblat bagi umat islam di dunia. Di mana umat islam akan berlomba-lomba untuk bisa sampai ke tempat tersebut terutama dalam rangka menunaikan ibadah haji dan umrah.

Untuk bisa bermain Makah-Makah tidaklah membutuhkan peralatan yang sulit. Peralatan yang diperlukan hanyalah dua buah batu, sedangkan syarat lainnya harus dimainkan pada tempat yang luas seperti tanah lapang. Fungsi dari kedua batu tersebut adalah dijadikan sebagai alat kompetisi oleh setiap regu. Permainan ini dimainkan oleh sebanyak dua regu saja, di mana masing-masing regu atau kelompok minimal terdiri atas 4 orang pemain atau lebih. Semakin banyak pemain tentunya menambah suasana permainan Makah-Makah menjadi semakin seru.

Pada setiap regu harus memiliki ketua regu. Tugas dari ketua regu adalah mengatur peletakan batu ke para anggota regunya sekaligus ketua regu yang akan menebak peletakan batu pada regu lawan. Dalam memilih ketua regu bisa dilakukan atas kesepakatan bersama atau bisa dengan melakukan pemilihan melalui sistem hom pim pa dan semacamnya.

Cara Bermain

Masing-masing regu saling berhadapan satu sama lain dengan jarak pemisah sekitar dua meter. Tepat di bagian tengah jarak pemisah tersebut diberi pertanda, bisa digambar sebuah titik atau menuliskan tanda garis lurus. Pembuatan tanda harus benar-benar pada posisi yang adil, artinya benar-benar dibuat pada bagian tengah antar regu. Tidak boleh berbeda, misalnya terlalu dekat atau terlalu jauh dengan salah satu regu.

Jika sudah selesai. Maka langkah selanjutnya adalah masing-masing ketua regu meletakkan batu yang sudah dipegang untuk diberikan kepada anggota regunya. Peletakan batu harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai diketahui oleh regu lawan. Oleh karenanya, selain ketua regu harus pintar mengecoh lawan, di sini para anggota juga harus pandai berpura-pura dengan seolah-olah batu yang dipegang ketua regu diberikan kepadanya. Padahal dari semua anggota regu hanya satu orang anggota saja yang mendapatkan batu tersebut.

Bila batu sudah diletakkan, sekarang tugas ketua regu adalah menggunakan insting yang tajam untuk bisa menebak keberadaan peletakan batu pada regu lawan. Misalnya telah ditentukan regu mana yang akan menebak duluan, regu A misalnya. Maka, ketua dari regu A akan mencoba menebak keberadaan batu yang berada di masing-masing anggota regu B.

Apabila tebakan ketua regu A benar, maka regu A boleh untuk berpindah satu langkah ke depan. Dengan begitu regu A bisa semakin lebih dekat ke titik tujuan. Sebaliknya apabila tebakan regu A ternyata salah, maka regu B lah yang diperbolehkan melaju satu langkah ke depan. Begitu Seterusnya. Puncaknya, regu mana yang berhasil sampai duluan ke titik tujuan tadi, maka dialah yang akan menjadi pemenangnya.

Unsur Nilai Budaya

Sebagaimana permainan tradisional pada umumnya yang kaya akan nilai-nilai budaya yang bermanfaat, begitu juga pada permainan Makah-Makah. Beberapa nilai budaya diantaranya :

  • Kekompakan : Permainan ini mengajarkan kekompakan pada masing-masing anggota dan dengan ketua regu. yaitu untuk bisa menciptakan kesepahaman dan saling pengertian antar ketua dengan anggota, bisa dilihat dalam hal peletakan batu sampai penebakan batu regu lawan.
  • Kepemimpinan : Khususnya bagi yang terpilih sebagai ketua regu, permainan ini melatih untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan sekaligus kedewasaan berpikir. Bagaimana ketua regu harus bisa menyatukan pendapat dan mengambil sebuah keputusan yang mampu memberikan hasil yang baik.
  • Kepercayaan : Ketua regu dan para anggota harus saling percaya satu sama lain merupakan kunci dari permainan ini. Tanpa nilai kepercayaan bisa dipastikan penampilan regu ini tidak akan maksimal. Karena pasti akan ada orang yang tidak menjalankan amanatnya dengan baik.

Demikian mengenai permainan tradisional Makah-Makah, dengan segala nilai positif di dalamnya, tentunya permainan ini sangat direkomendasikan untuk diperkenalkan pada generasi sekarang, supaya keberadaannya tidak pudar dan hilang termakan zaman.

Oleh : Roma Doni
Sumber Referensi : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2606/permainan-makah-makah

Related Posts :