Senin, 10 November 2014

Sejuta Manfaat Permainan Tradisional Indonesia - 2

Main dan permainan merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dari dunia anak-anak. Seiring dengan perkembangan zaman, media yang digunakan oleh anak-anak untuk bermain semakin berkembang pula. Hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun teknologi telah mengubah pola anak-anak dalam bermain.

Semula, gaung atau hasrat untuk kembali memainkan dan mengenal lebih jauh tentang permainan tradisional Indonesia adalah karena alasan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa, karena sebagian besar permainan tersebut sudah tidak dimainkan lagi sehingga hampir punah. Namun ternyata selain itu diketahui pula berbagai manfaat yang didapat dari permainan tradisional ini, terutama bagi tumbuh kembang anak. Apa sajakah manfaat permainan tradisional bagi tumbuh kembang anak? Di bawah ini dijabarkan beberapa diantaranya.

3. Benteng

Salah satu permainan berkelompok asli Indonesia yang mulai punah. Permainan ini dimainkan oleh 4 hingga 8 orang anak. Dalam memainkannya dibutuhkan sebuah bola, sebelum bola tenis populer, anak-anak pada masa lalu membuat bola sendiri yang berasal dari dedaunan, plastik, kulit pisang dan karet, dibentuk menjadi bulatan hingga sebesar bola tenis.

Sebelum memulai permainan pemain harus menentukan sebuah tiang atau pilar atau dinding, dapat juga pohon yang disebut benteng. Selanjutnya adalah membagi seluruh peserta yang ada ke dalam dua kelompok. Satu kelompok akan menyerang kelompok lain yang akan berusaha mencapai benteng. Jika berhasil menyentuh benteng tanpa terkena lemparan bola, maka kelompoknya dinyatakan menang. Manfaat dari permainan ini adalah melatih jiwa kepemimpinan dan mematuhi instruksi demi kemenangan kelompok. Kecerdasan emosional juga banyak dilatih dalam permainan ini, hal yang sangat dibutuhkan ketika anak telah terjun langsung dalam masyarakat. Ketangkasan melempar dan menangkap bola serta menghindari serangan juga dibutuhkan. Selain membakar kalori tubuh, permainan ini akan membuat seluruh saraf motorik pada anak bekerja optimal.

4. Gebok

Jika sudah lelah bermain benteng, bola yang digunakan sebelumnya, terutama yang sudah susah-susah dibuat sendiri itu jangan dibuang. Bola yang sama dapat juga digunakan untuk bermain gebok. Permainan yang hampir tidak pernah terdengar lagi ini merupakan permainan kelompok yang juga menggunakan media bola tenis atau bola buatan. Gebok artinya menghajar lawan dengan bola, jadi salah satu tim harus menjadi penggebok tim lain.

Selain bola, permainan gebok juga membutuhkan batu atau lempengan yang bisa disusun ke atas. Kemudian pemain menentukan kelompok yang menjadi penggebok dan yang menjadi penjaga batu dengan cara suit. Tim yang menang akan menggebok susunan batu hingga rubuh, lalu mulai berlari menghindari “gebokan lawan”. Selain menghindari terkena gebokan, tim tersebut diharuskan menyusun batu tersebut kembali seperti semula. Jika berhasil menyusun batu sebelum seluruh anggotanya terkena lemparan bola atau gebok, maka tim tersebut menang, jika tidak maka posisi mereka akan berbalik menjadi penjaga batu.

Manfaat yang didapat dari permainan ini sangatlah banyak. Selain menyehatkan tubuh karena menuntut gerak fisik, seperti berlari, melempar dan menangkap bola. Permainan gebok juga melatih rasa sportivitas anak, kerja sama tim dan ketangkasan membidik dan menyusun lempengan batu secara cepat. Dalam kehidupan setelah dewasa, pengalaman ini akan menuntun mereka menjadi seorang pengambil keputusan yang tepat. Mampu berpikir dan berencana secara taktis di saat-saat genting seakan takut terkena gebok. Sportivitas yang dibangun sejak dini akan menghasilkan pribadi yang tidak takut menerima kekalahan, dan siap apabila menerima kemenangan.

5. Gasing

Permainan ini sangat populer di kalangan anak laki-laki. Permainan ini membutuhkan konsentrasi dan keterampilan. Permainan gasing merupakan permainan memutar sebuah bidak dari kayu dengan benang nilon. Bidak inilah yang disebut dengan gasing. Gasing memiliki bentuk yang berbeda-beda di tiap daerah. Namun cara bermainnya tetap sama, yakni memutar gasing dengan benang nilon. Gasing dapat juga dimainkan beramai-ramai, biasanya masing-masing pemilik gasing akan mengadu gasing siapa yang paling lama berputar, atau bahkan mengadu dengan cara membenturkan dua buah gasing, siapa yang masih berputar setelah berbenturan, maka dialah yang menang.

Manfaat yang didapat dari permainan ini adalah melatih konsentrasi dan kreativitas. Seringkali pemilik gasing menghias gasingnya agar berbeda. Anak-anak juga dapat mempelajari bagaimana sebuah gasing dapat berdiri tegak ketika berputar, juga menghitung tenaga dan panjang nilon yang digunakan untuk menambah atau menurunkan kecepatan putar dan hal-hal menarik lainnya yang berhubungan dengan fisika. Ketika dewasa, kebiasaan berpikir kritis dan fokus akan membantu mereka menggapai cita-cita.

Demikianlah sekelumit dari berjuta manfaat yang dapat diperoleh dari permainan tradisional Indonesia. Meski sempat ditinggalkan karena terkesan kuno dan tidak mendidik, namun segala pendapat tersebut kini terbantahkan seiring dengan pamor permainan tradisional sebagai warisan budaya semakin meningkat. Banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang tadinya tidak peduli dengan nasib permainan tradisional, kembali memainkan permainan tradisional tersebut dan memperkenalkan kepada anak-anak mereka. Apalagi setelah semakin banyak informasi yang disebarkan mengenai sejuta manfaat permainan tradisional bagi tumbuh kembang anak terutama kecerdasan berinteraksi dan bersosialisasi, membuat masyarakat semakin bersemangat melestarikan aneka permainan tradisional.

Oleh : Tika Dwi

Related Posts :